Sisca, adalah seorang remaja yang berumur 17 tahun, yang sangat menyukai fashion. Ia sangat senang mengoleksi berbagai macam baju dan aksesoris. Barang-barang koleksinya yang paling ia senangi adalah sepatu,mulai dari flatshoes, highheels, sneakers, hingga wedges. Ia selalu merawat koleksinya dengan baik.

Suatu hari, Sisca jalan-jalan di mall sendirian, karena ternyata mama nya tidak dapat pergi bersama dia. Ia berjalan perlahan-lahan mengitari mall dan melihat-lihat berbagai macam model baju dan tentu saja tak lupa melihat-lihat sepatu. Ketika ia melewati sebuah toko sepatu, matanya tercekat melihat sebuah flatshoes. Flatshoes tersebut berwarna putih dan ada pita renda yang begitu lucu sebagai hiasannya. Walaupun flatshoes tersebut terlihat biasa-biasa saja, tetapi entah kenapa Sisca tidak dapat melepas pandangannya dari sepatu tersebut. Sisca begitu ragu-ragu untuk membeli sepatu flatshoes tersebut, untuk membuang keraguannya, Sisca masuk ke toko tersebut dan mencoba flatshoes tersebut.

Sisca begitu senang mencoba flatshoes tersebut dan melihat ke kaca, begitu lucu dan cocoknya flatshoes tersebut di kakinya. Ia berputar-putar di depan cermin dan melihat ke arah flatshoes tersebut. Hatinya sudah tertambat pada flatshoes tersebut, akhirnya tanpa ragu, Sisca membeli flatshoes tersebut. Karena Sisca tidak sabaran, ia memutuskan untuk langsung memakai flatshoes tersebut untuk jalan-jalan.

Sambil membawa kantongan yang berisi sepatu lamanya, Sisca memutari mall lagi untuk kesekian kalinya. Namun lama kelamaan, Sisca merasa kakinya terasa perih dan sakit. Ternyata itu karena flatshoes barunya. Flatshoes tersebut masih baru dan belum begitu melar sehingga agak terasa sesak untuk kakinya. Tetapi Sisca adalah anak yang keras kepala, karena ia begitu bangganya terhadap flatshoesnya, ia tetap memaksa berjalan-jalan mengitari mall dengan kaki yang terluka. Sakit di kakinya, ia tahan sampai akhirnya ia tidak mampu berjalan lagi. Bukan rasa perih yang ia rasakan melainkan rasa sakit yang tak tertahankan. Ia melepas pelan-pelan flatshoesnya dan melihat kakinya bagian belakang, ternyata tidak hanya lecet namun kulitnya terkelupas dan terlihat dagingnya.

Sisca merasa ngeri melihat kondisi kakinya. Akhirnya ia menyerah, ia melepas flatshoesnya dan mengganti dengan sandal yang pada awalnya ia pakai. Ia pergi ke apotik yang ada di mall dan membeli handsaplast untuk menutup luka di kakinya.

Beberapa hari kemudian, di kamar, Sisca sedang merenung dan melihat flatshoes barunya. Ia sangat ingin memakai flatshoes tersebut tetapi kondisi kakinya belum membaik. Ia menunda untuk menggunakan flatshoes tersebut.

Beberapa minggu kemudian, kondisi kaki Sisca sudah membaik dan ia mulai mencoba menggunakan flatshoesnya. Tetapi kali ini, ia sudah membalut kaki bagian belakang dengan hansaplast sehingga kulitnya tidak akan terkelupas lagi. Hasilnya, walaupun sepatu tersebut agak sedikit menyiksa kaki Sisca, tetapi sudah tidak menimbulkan lecet lagi. Flatshoes itu, ia pakai terus menerus sampai akhinya flatshoes tersebut menjadi agak melar. Akhirnya Sisca dapat menggunakan flatshoes tersebut tanpa menggunakan handsaplast dan dapat memakai flatshoes tersebut dengan nyaman.

Cerita diatas adalah cerita nyata. Saya mengalaminya sendiri. Mungkin para pembaca bingung pelajaran moral apa yang dapat diambil dari cerita di atas. Dari cerita di atas, saya ingin mengatakan bahwa kaki tersebut sama dengan kita dan flatshoes tersebut diandaikan sebagai masalah di sekitar kita. Sering kali dalam kehidupan kita terbentur oleh berbagai masalah. Kita merasa putus asa dan down serta melihat bahwa sudah tidak ada harapan lagi. Namun janganlah kita pantang menyerah melawan masalah tersebut, justru kita harus berterima kasih kepada masalah, karena dengan adanya masalah, diri kita ditempa untuk menjadi lebih kuat dari sebelumnya. Jika kita mau berusaha mengatasi berbagai masalah hidup, pasti akan tersedia jalan keluar bagi kita. Walaupun kita merasakan sakit yang bertubi-tubi namun pada akhirnya kita akan meraih keberhasilan.